Utamakan Pendidikan dan Moral Untuk Harkitnas
Sejarah Kebangkitan Nasional
Memperingati Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, alangkah baik jika sebelumnya kita mengingat sejarah perjuangan bangsa Indonesia untuk bisa bangkit dan terlepas dari penjajahan kolonialisme dalam mencapai kemerdekaan. Kebangkitan Nasional dimulai dengan lahirnya gerakan Nasionalis pertama pada tanggal 20 Mei 1908 dengan nama Boedi Oetomo yang dipimpin oleh Dr. Soetomo di Jakarta.
Beberapa faktor terlahirnya Boedi Oetomo antara lain, dari dalam negeri yakni makin tingginya kesadaran rakyat Indonesia untuk bersatu, makin meningkatnya semangat rakyat Indonesia untuk merdeka, dan makin banyaknya orang pintar dan terpelajar di Indonesia walaupun hanya dari kalangan konglomerat dan
bangsawan. Kemudian faktor yang datang dari luar negeri yakni kemenangan Jepang atas Rusia pada tahun 1905, yang telah mendorong dan membuktikan bahwa bangsa kulit kuning (Asia) mampu mengalahkan bangsa kulit putih (Eropa) yang berpredikat sebagai penjajah bangsa-bangsa kulit kuning.
Sebagai respon dari faktor-faktor tersebut, maka mencuatlah gagasan dan tindakan dari Dr. Wahidin Sudirohusodo untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia dari jajahan kolonial Belanda dengan memanfaatkan peluang dari jalur pendidikan sebagai sarana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang telah dikerdilkan oleh kolonial Belanda dan menumbuhkan rasa nasionalisme bangsa Indonesia.
Dr. Wahidin Sudirohusodo memulai terjun langsung ke tengah-tengah masyarakat dengan biaya sendiri, seperti melakukan perjalanan keliling pulau jawa pada tahun 1906 – 1907 untuk mengajak dan membangkitkan golongan-golongan priyayi agar bersedia mengulurkan tangan dalam memberikan pertolongan terhadap rakyat untuk meningkatkan kecerdasannya.
Akhirnya, pada tanggal 20 Mei 1908 atas prakarsa Dr. Wahidin Sudirohusodo dan para pemuda seperti Soetomo, Gunawan, Suradji dan Suwardi Suryaningrat mengadakan rapat pertama di Jakarta, dan dari rapat tersebut berhasil mendirikan perkumpulan yang diberi nama Boedi Oetomo yang berarti kebaikan yang diutamakan.
Boedi Oetomo merupakan tolak ukur awal berdirinya perkumpulan-perkumpulan yang bersifat nasionalisme dan patriotisme, karena setelah berdirinya Boedi Oetomo maka bermunculanlah perkumpulan-perkumpulan baru antara lain, Sarikat Dagang Islam tahun 1909 dibawah pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto bersama H.Agus Salim dan Abdul Muis, Indische Partij tahun 1912 dibawah pimpinan Douwes Dekker (Dr. Setiabudhi), Swardi Suryaningrat dan Dr. Tjipto Mangunkusumo, Indische Social Demokratische Vereeniging (ISDV) tahun 1914 di bawah pimpinan Sneevliet dan Semaun, dan perkumpulan-perkumpulan pemuda pada tahun 1918 yang menamakan diri Young Java, Young Sumatra, Young Ambon, Young Pasundan, Young Batak, Pemuda Betawi dll.
Kemudian dimulai dari perkumpulan-perkumpulan pemuda inilah yang akhirnya tumbuh keinginan kuat untuk bersatu merebut kemerdekaan bangsa Indonesia dari jajahan kolonial Belanda, yang terbukti dengan munculnya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Sejak itu pulalah mulai bermunculan tokoh-tokoh pemuda yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia seperti, Moh. Yamin, Moh. Hatta, Sutan Syahrir, Soekarno, Ali Sastroamidjojo, Syarifuddin, Ki Hadjar Dewantoro, Moh. Natsir, Moh. Room dan lainnya, yang pada gilirannya kelak merekalah yang memberikan jiwa dan semangat untuk mencetuskan proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia 17 Agustus 1945.
Utamakan Pendidikan dan Moral
Berbekal sejarah di atas, maka dalam memperingati Hari Kebangkitan Nasional tahun ini, sudah saatnya kita sebagai masyarakat Indonesia untuk memaknainya dengan penuh semangat membangun kembali bangsa Indonesia yang belakangan ini tidak henti-hentinya didera cobaan dan musibah seperi tsunami, gempa bumi, banjir, longsor, bahkan luapan lumpur lapindo yang sampai saat ini masih terus menyemburkan kesengsaraan bagi rakyat. Ditambah lagi makin maraknya kasus-kasus kecelakaan transportasi, korupsi, tindak kriminal yang makin terang-terangan dan perekonomian masyarakat yang makin mengkhawatirkan.
Maka dari itu, mari kita mulai dengan mengintrosfeksi diri dan memperbaiki moral sebagai masyarakat bangsa Indonesia secara menyeluruh sehingga bangsa dan negara kita yang tercinta ini akan menjadi lebih baik sesuai harapan para pahlawan bangsa yang telah memperjuangkan kemerdekaan bagi kita semua.
Untuk mencapai harapan tersebut salah satu diantaranya hal yang sangat penting diperhatikan di era globalisasi ini yakni mengutamakan bidang pendidikan bagi masyarakat secara adil, menyeluruh dan berkualitas. Karena dengan Sumber Daya manusia yang berpendidikan baik, maka akan menghasilkan masyarakat yang bermoral baik, bermartabat dan akan mampu bangkit dari keterpurukan serta bangkit menjadi bangsa Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.
Sejarah Kebangkitan Nasional
Memperingati Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, alangkah baik jika sebelumnya kita mengingat sejarah perjuangan bangsa Indonesia untuk bisa bangkit dan terlepas dari penjajahan kolonialisme dalam mencapai kemerdekaan. Kebangkitan Nasional dimulai dengan lahirnya gerakan Nasionalis pertama pada tanggal 20 Mei 1908 dengan nama Boedi Oetomo yang dipimpin oleh Dr. Soetomo di Jakarta.
Beberapa faktor terlahirnya Boedi Oetomo antara lain, dari dalam negeri yakni makin tingginya kesadaran rakyat Indonesia untuk bersatu, makin meningkatnya semangat rakyat Indonesia untuk merdeka, dan makin banyaknya orang pintar dan terpelajar di Indonesia walaupun hanya dari kalangan konglomerat dan
bangsawan. Kemudian faktor yang datang dari luar negeri yakni kemenangan Jepang atas Rusia pada tahun 1905, yang telah mendorong dan membuktikan bahwa bangsa kulit kuning (Asia) mampu mengalahkan bangsa kulit putih (Eropa) yang berpredikat sebagai penjajah bangsa-bangsa kulit kuning.Sebagai respon dari faktor-faktor tersebut, maka mencuatlah gagasan dan tindakan dari Dr. Wahidin Sudirohusodo untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia dari jajahan kolonial Belanda dengan memanfaatkan peluang dari jalur pendidikan sebagai sarana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang telah dikerdilkan oleh kolonial Belanda dan menumbuhkan rasa nasionalisme bangsa Indonesia.
Dr. Wahidin Sudirohusodo memulai terjun langsung ke tengah-tengah masyarakat dengan biaya sendiri, seperti melakukan perjalanan keliling pulau jawa pada tahun 1906 – 1907 untuk mengajak dan membangkitkan golongan-golongan priyayi agar bersedia mengulurkan tangan dalam memberikan pertolongan terhadap rakyat untuk meningkatkan kecerdasannya.
Akhirnya, pada tanggal 20 Mei 1908 atas prakarsa Dr. Wahidin Sudirohusodo dan para pemuda seperti Soetomo, Gunawan, Suradji dan Suwardi Suryaningrat mengadakan rapat pertama di Jakarta, dan dari rapat tersebut berhasil mendirikan perkumpulan yang diberi nama Boedi Oetomo yang berarti kebaikan yang diutamakan.
Boedi Oetomo merupakan tolak ukur awal berdirinya perkumpulan-perkumpulan yang bersifat nasionalisme dan patriotisme, karena setelah berdirinya Boedi Oetomo maka bermunculanlah perkumpulan-perkumpulan baru antara lain, Sarikat Dagang Islam tahun 1909 dibawah pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto bersama H.Agus Salim dan Abdul Muis, Indische Partij tahun 1912 dibawah pimpinan Douwes Dekker (Dr. Setiabudhi), Swardi Suryaningrat dan Dr. Tjipto Mangunkusumo, Indische Social Demokratische Vereeniging (ISDV) tahun 1914 di bawah pimpinan Sneevliet dan Semaun, dan perkumpulan-perkumpulan pemuda pada tahun 1918 yang menamakan diri Young Java, Young Sumatra, Young Ambon, Young Pasundan, Young Batak, Pemuda Betawi dll.
Kemudian dimulai dari perkumpulan-perkumpulan pemuda inilah yang akhirnya tumbuh keinginan kuat untuk bersatu merebut kemerdekaan bangsa Indonesia dari jajahan kolonial Belanda, yang terbukti dengan munculnya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Sejak itu pulalah mulai bermunculan tokoh-tokoh pemuda yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia seperti, Moh. Yamin, Moh. Hatta, Sutan Syahrir, Soekarno, Ali Sastroamidjojo, Syarifuddin, Ki Hadjar Dewantoro, Moh. Natsir, Moh. Room dan lainnya, yang pada gilirannya kelak merekalah yang memberikan jiwa dan semangat untuk mencetuskan proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia 17 Agustus 1945.
Utamakan Pendidikan dan Moral
Berbekal sejarah di atas, maka dalam memperingati Hari Kebangkitan Nasional tahun ini, sudah saatnya kita sebagai masyarakat Indonesia untuk memaknainya dengan penuh semangat membangun kembali bangsa Indonesia yang belakangan ini tidak henti-hentinya didera cobaan dan musibah seperi tsunami, gempa bumi, banjir, longsor, bahkan luapan lumpur lapindo yang sampai saat ini masih terus menyemburkan kesengsaraan bagi rakyat. Ditambah lagi makin maraknya kasus-kasus kecelakaan transportasi, korupsi, tindak kriminal yang makin terang-terangan dan perekonomian masyarakat yang makin mengkhawatirkan.
Maka dari itu, mari kita mulai dengan mengintrosfeksi diri dan memperbaiki moral sebagai masyarakat bangsa Indonesia secara menyeluruh sehingga bangsa dan negara kita yang tercinta ini akan menjadi lebih baik sesuai harapan para pahlawan bangsa yang telah memperjuangkan kemerdekaan bagi kita semua.
Untuk mencapai harapan tersebut salah satu diantaranya hal yang sangat penting diperhatikan di era globalisasi ini yakni mengutamakan bidang pendidikan bagi masyarakat secara adil, menyeluruh dan berkualitas. Karena dengan Sumber Daya manusia yang berpendidikan baik, maka akan menghasilkan masyarakat yang bermoral baik, bermartabat dan akan mampu bangkit dari keterpurukan serta bangkit menjadi bangsa Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapussep...iraha atuh paseurehan rek dijadikeuh kota madya,ameh angkot jurusan leumbur kolot cepet jalan,ari geus jalan kan enak mawa parab make angkot.
BalasHapus